Lembaga Kimbingan Belajar dan Kursus {LKBK) "Genius"

Lembaga Kimbingan Belajar dan Kursus {LKBK) "Genius"

Program LKBK Genius
1. Kursus Komputer, Bahasa Inggris
2. Bimbel SD dan SMP
3. Pelatihan Komputer
4. Jaringan
5.

Melayani :
1. Pengetikan
2. Servis Komputer Panggil
3. Rental Komputer
4. Internet
Alamat : jl. Ponnorogo-Wonogiri no. 5 Timur SMP 1 Badegan.
Telp. : (0352) 751683

Readmore »»

Tanda Gambar Unik Pada WC Umum

Tanda Gambar Unik Pada WC Umum


gambar unik toiletBanyak cara untuk memberi arahan dan peringatan kepada orang.Salah satunya adalah memberi suatu tanda gambar yang unik dan lucu pada WC umum.Pastilah hal ini dimaksudkan untuk memberi arahan kepada para pengguna WC tersebut agar jangan sampai ”kesasar”, salah kamar.Semoga saja anda terbiasa dengan tanda gambar ini sehingga bila kelak ingin masuk pada WC umum ini , anda tidak salah kamar :-)














Readmore »»

What Is Your Commitment?

What Is Your Commitment?

komitmenSemua orang pastilah mempunyai komitmen dalam hidupnya.Tinggal bagaimana agar komitmen itu secara konsisten kita laksanakan.Begitupun ditempat kerja, pastilah anda juga mempunyai komitmen dalam bekerja.Komitmen dalam menyelesaikan pekerjaan, komitmen bekerja secara aman, komitmen meningkatkan kinerja dan produksi perusahaan anda, dan banyak lagi.

Seperti halnya ditempat kerja saya, dalam hal komitmen bekerja secara aman kami disarankan menuliskan komitmen pada secarik kertas yang isinya menyangkut keselamatan kerja dalam setiap melakukan aktifitas kerja.Isinya bermacam-macam seperti:

”Saya akan selalu memakai alat safety saat bekerja”

”Saya akan selalu memakai sabuk pengaman saat mengendarai mobil”

”Saya akan selalu membersihkan area kerja saya setelah habis bekerja”, dan sebagainya.

Dengan demikian komitmen itu akan selalu diingat dan diingatkan kepada orang lain karena kertas-kertas berisi tulisan tersebut dipajang pada papan pengumuman.Suatu hal yang positif menurut saya karena kami saling diingatkan mengenai pentingnya keselamatan dalam bekerja.

Anda pun mungkin dapat melakukan hal serupa ditempat kerja anda, dirumah, dimobil atau didepan komputer.Tulislah komitment anda dan letakkan pada tempat yang mudah terlihat oleh anda.Dengan demikian anda pun dapat konsisten melaksanakan komitmen tersebut.

Bagaimana dengan komitmen berblogging
Readmore »»

Internet Masuk Desa

Internet Masuk Desa

Posted on | October 15, 2009 | 36 Comments

EmailCartoonPerkembangan Internet sudah semakin pesat dan penggunanya pun dari hari kehari semakin meningkat.Berkomunikasi via email dengan memanfaatkan jaringan internet kini sudah merambah hingga pedesaan.Namun demikian penggunaan email yang salah, seperti salah mengirim alamat email bisa menyusahkan orang lain juga.Berikut ceritanya.

Tukiyo, tukang kayu dari daerah pengunungan Wonosobo suatu hari dapet kerjaan bikin mebel di hotel di Yogyakarta.

Dia berangkat duluan dianter bininya Tugiyem kestasion bis, dengan janji besoknya bininya bakal nyusul.Sesampainya di Yogya dia lantas segera kirim email sama bininya.

Di lain tempat namun masih di Wonosobo, Rugiyem seorang istri yang sedang berduka baru saja mengantarkan jenazah suaminya Paijo ke pemakaman.Selesai dari pemakaman dia langsung pulang kerumah, lantas dia buru-buru buka email, untuk cek berita-berita dari sanak keluarga.

Begitu dia buka email, dia menjerit lalu pingsan…Anaknya heran, lalu ikut baca emailnya, lalu ikut menjerit…(tanpa memperhatikan siapa yang mengirim email tersebut).

Sebenarnya, pangkalnya itu si Tukijo salah pijit tombol,kirim email ke bininya mustinya Tugiyem@wonosobo.co.idRugiyem@wonosobo.co.id. Maklum jarinya tukang kayu segede jempol, T dengan R kan dempetan. jadinya

Mau tahu isinya yang bikin keluarga Rugiyem histeris….

Isi emailnya:

Yem istriku tercinta,

Terima kasih banget yo, udah nganterkan aku tadi pagi.Aku sudah sampai dengan selamat, disini diterima baik-baik.Aku senang sekali karena banyak teman lama yang sudah duluan sampai.Katanya kamu akan nyusul besok, namamu sudah aku daftarkan disini, aku tunggu yaa…supaya kita berdua bersama disini.Oh, ya ternyata disini lumayan panasnya.
Readmore »»

Teknik Mencairkan Perselisihan Dengan Cepat

Teknik Mencairkan Perselisihan Dengan Cepat


mencegah perselisihanPerselisihan dalam suatu kelompok seringkali kita dapati dalam lingkungan tempat tinggal kita.Perselisihan dapat terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat.Adakalanya dalam menyelesaikan perselisihan itu kita dihadapkan pada kepribadian yang berbeda dan saling berbenturan antara orang yang sedang berselisih. Lantas bagaimana kita menghadapi orang-orang seperti ini?

Menurut David J.Lieberman,Ph,D, ada tiga aturan yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Aturlah agar dua pihak yang berlawanan duduk bersebelahan, bukan berhadapan.Ketika kita saling berhadapan secara fisik,sikap kita semakin kian berkubu karena kita mulai mengembangkan mentalistas” kami dan mereka “.Duduk bersebelahan dapat menciptakan suasana persatuan dan kerjasama yang lebih kondusif
2. Hubungan dan kedekatan:Upayakan agar kedua pihak terus berdekatan dan saling berhubungan satu sama lain.Seperti yang di tunjukkan oleh berbagai penelitian yang dikutip, kedekatan meningkatkan rasa suka.Tingkat kedekatan tertentu sangat dibutuhkan dalam menciptakan kerja sama yang optimal.Tetapi, jagalah agar yang satu tidak mengungguli yang lain.
3. Sentuhan:Jangan pernah meremehkan pengaruh sentuhan manusia.Jika memungkinkan, cobalah menciptakan situasi di mana para anggota bisa saling berjabat tangan atau saling berkontak fisik.Sentuhan sangat meningkatkan keakraban.Kita merasa lebih dekat secara psikologis dengan orang-orang yang kita sentuh secara fisik.

Dengan demikian kita dapat mencairkan perselisihan dengan cepat sehingga kedamaian, persatuan, dan kerjasama dapat tercipta.
Readmore »»

Percaya Dirikah Anda?

Percaya Dirikah Anda?


self insureJika Anda merasa belum percaya diri, maka Anda bisa menjadi percaya diri. Jika Anda sudah merasa percaya diri, maka Anda bisa menjadi lebih percaya diri.
Percaya diri itu dinamis, ia bisa naik dan turun, berubah dan berkembang. Apa yang perlu Anda lakukan, adalah menjaganya agar tetap berada di tingkat yang optimal dan sehat.
Secara tidak sadar setiap hari kita melakukan tiga hal berikut :
1. Memimpin;
2. Menjual;
3. Mempresentasikan.

Jika Anda seorang pemimpin, maka Anda pasti sedang jualan sesuatu agar diikuti oleh orang-orang yang Anda pimpin.
Jika Anda sedang menjual, Anda sedang berusaha memimpin, agar pembeli mau menuruti kemauan anda, membeli produk anda.
Jika Anda sedang berpresentasi, maka Anda bisa pasti sedang menjual. Dengan presentasi itu anda sedang menjadi pemimpin sekaligus sedang menjual.
Nah..apa yang anda perlukan agar ketiga aktifitas itu sukses? Jawabannya Anda harus memiliki kemampuan verbal atau kemampuan bicara yang unggul! Sebelum dapat bicara dengan kemampuan bahasa verbal yang unggul anda perlu menjadi orang yang percaya diri. Mustahil seorang orator atau ahli bicara didepan umum tidak punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Jadi sebelum mampu bicara dideapn public anda perlu menjadi orang yang percaya diri.
Percaya diri adalah sikap yang positif dan sangat diperlukan untuk menunjang kemampauan bicara anda.
Apa itu percaya diri?
PERCAYA DIRI BERARTI TAHAN BANTING
PERCAYA DIRI BERARTI MAMPU MENGONTROL
PERCAYA DIRI BERARTI TAHU KAPASITAS DIRI
PERCAYA DIRI BERARTI SUCCESS ORIENTED
PERCAYA DIRI BERARTI KONTROL TEMPERAMEN YANG LEBIH BAIK
PERCAYA DIRI BERARTI HIDUP SISTEMATIS
PERCAYA DIRI BERARTI PENINGKATAN KEMAMPUAN
PERCAYA DIRI BERARTI FOKUS PADA DUNIA LUAR
PERCAYA DIRI BERARTI HIDUP YANG LEBIH NYAMAN DAN MENYENANGKAN
PERCAYA DIRI BERARTI PESAN POSITIF
PERCAYA DIRI BERARTI PELUANG UNTUK MENUMBUHKAN KHARISMA.
Readmore »»

Syukur Dalam Gelas Plastik

Syukur Dalam Gelas Plastik


bunga_ungkapan rasa syukurJam sudah menandakan pukul setengah sebelas malam di hari kedua lebaran 1430 H., sejenak kusempatkan melihat keluar, di depan rumah, keadaan jalanan begitu lengang, jauh berbeda dengan tadi siang ketika banyak sekali orang berlalu-lalang tuk bersilaturahmi dengan sanak famili. Akhirnya kunyatakan, open house hari ini dicukupkan sekian. bersama adek dan Ibu, kami mulai membersihkan ruangan perjamuan, tak luput, gelas plastikpun turut dibersihkan … maklum jaman udah berubah, dulu minuman tamu dibuat seketika ketika tamu datang, baik berupa kopi, teh atau sekedar sirup buatan tangan dalam gelas bening ataupun cangkir, cukup untuk beberapa sruputan, menemani suasana hangat silaturahmi dengan perbincangan seru seputar keadaan famili. hmm, sekarang… cukup pesan air dalam kemasan dengan berbagai rasa yg ada, dalam kardus ato galon yang siap diisi ulang.

Ketika gelas plastik itu kubersihkan, seketika ibuku bilang “Le…!!! (panggilan anak laki-laki di daerah kami-pasuruan), nanti gelasnya dikumpulkan yach, suatu hari kan ada yg ngambil”. Siapa bu …??, aku balik bertanya. Sambil bersama-sama membersihkan ruangan, ibuku bercerita … tempo hari ada seorang kakek, dia bekerja dengan mengumpulkan gelas plastik di pasar. Suatu hari dia (sang kakek) datang ke toko ibu sambil bertanya “ada gelas plastik g kepake g bu???”, lalu ibu carikan di sekitar rumah dan ada sekitar beberapa gelas. g banyak memang, namun ketika ibu serahkan, kakek itu berucap “Alhamdulillah yaaa Alloh 3x, maturnuwun bu 2x, smoga Alloh membalas dengan kebaikan yg setimpal”, lebih lanjut kakek itu kemudian bercerita bahwa dia berasal dari daerah yang cukup jauh dari daerah kami, dia datang dari pasar yang satu ke pasar yang laen untuk sekedar mengumpulkan gelas plastik guna memperoleh beras, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Melihat kondisi yg sudah renta, ibu kemudian balik bertanya … “koq g nyoba profesi laen yg lebih ringan pak?”, sang kakekpun menjawab “profesi ini sudah cukup, profesi ini insyaAlloh sudah mampu menyelamatkan wajah kami di hadapan Alloh di hari akhir kelak”, dengan jawaban ini, ibupun bertanya, maksudnya pak?, bisa dijelaskan !, sang kakekpun kemudian melanjutkan jawabannya “Iya bu…, profesi ini sudah menghindarkan kami dari meminta-minta, mengemis atau keadaan terpaksa yang laen. Bukankah Nabi Muhammad pernah berpesan, bahwa orang yang meminta-minta (senantiasa berpangku tangan tanpa keinginan dan tindakan usaha semampunya) akan dibangkitkan di akhirat kelak dengan wajah yang kurang baik di hadapan Alloh SWT.”

Syukur dalam gelas plastik…
Mungkin sekedar gelas plastik, mungkin hanya barang yg kurang berharga… namun siapa sangka justru hal-hal yg kecil seperti itu yang justru menjadi salah satu washilah dari tingginya derajat seorang hamba di hadapan Penciptanya. Ketika syukur terucap, ketika prinsip-prinsip kehidupan dipegang erat, ketika seorang hamba mampu menguasai nafsunya dan menerima serta berusaha dalam setiap sisi tantangan yang ada. Semoga Alloh senantiasa mengabulkan do””a yang kita panjatkan … di akhir shalat tarawih dalam setiap ramadlon kita,
… “Wa bil qodlooo i roodliin, wa bin na””maaa i syakirin, wa ””alal balaaa i shobirin” … menjadi seorang muslim yang kuat …. dengan ridlo terhadap segala keputusan Alloh, dengan syukur terhadap Nikmat” Alloh dan dengan sabar dalam setiap cobaan yang diberikan oleh Alloh.
ridlo, syukur dan sabar …
Readmore »»

5 Pemicu Pria Berselingkuh

Ini informasi buat para wanita agar dapat mengetahui bahwa pasangannya berselingkuh karena dipicu oleh apa.Kalau ingin tahu silakan simak 5 pemicu sehingga pria berselingkuh dibawah ini.

1. Uang
Banyak orang yang berpendapat saat pria dalam keadaan mapan, risiko melakukan perselingkuhan semakin besar. Hal itu bisa terjadi karena ia memiliki segalanya dan mudah saja melakukan perselingkuhan. Terutama bila istrinya sangat bergantung dalam hal ekonomi padanya. Kondisi tersebut juga bisa membuatnya lebih mudah dimaafkan karena alasan kekhilafan. Hal ini bukan berarti pria yang belum mapan tidak melakukan perselingkuhan. Tetapi, kondisi yang mapan ini bisa menjadi pemicu perselingkuhan.

2. Status dan kekuasaan
Harta, tahta dan wanita memang menjadi ujian bagi pria. Saat status sosial atau jabatan seorang pria menjadi lebih tinggi banyak sekali godaan yang menghampirinya termasuk untuk berselingkuh. Akan makin banyak wanita yang menggoda dan mendekatinya karena status dan kekuasaannya. Kesempatan untuk melakukan perselingkuhan pun menjadi lebih besar.

3. Merasa tersisih
Seringkali kesibukan istri membuat suami merasa tersisihkan. Terutama jika sang istri juga bekerja dan sesampainya dirumah sibuk mengurus rumah dan anak-anak. Jika pria tidak bisa mengatasi perasaan tersisihnya dalam keluarga, perselingkuhan pun bisa dilakukan. Pria bisa mencari kehangatan dari wanita lain dan kembali ke rumah seolah tidak terjadi apa-apa.

4. Iseng
Rasa iseng juga bisa menjadi awal perselingkuhan. Misalnya saling berkirim sms dengan wanita yang baru dikenalnya atau chatting dengan wanita lain. Keisengan tersebut pun bisa berlanjut menjadi hubungan yang lebih intim.

5. Internet
Internet juga memicu pria melakukan perselingkuhan. Bisa melalui laman jaringan sosial atau chatting dengan wanita yang baru dikenalnya di dunia maya. Berselingkuh di dunia maya bisa lebih mudah dan tidak terlalu berisiko.
Readmore »»

Pria Beristri Muda Cenderung Lebih Bahagia

RambhaKalau Syech Puji Membaca ini pasti dia akan semakin ”bangga” dapat menikahi Ulfa yang nota bene masih sangat muda.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa pria yang menikah dengan wanita yang 5 tahun lebih muda akan lebih bahagia dan langgeng pernikahannya.

Hasil penelitian dilakukan oleh Bath University yang melibatkan 1.500 pasangan suami istri dan berlangsung selama 5 tahun.Hasilnya adalah, suami yang memiliki istri yang usianya 5 tahun lebih tua darinya, risiko bercerai akan meningkat sebanyak 3 kali dibanding jika menikah dengan istri yang berumur sama.Dan suami memiliki istri yang lebih muda 5 tahun darinya. Peneliti mengatakan risiko bercerai akan lebih kecil.

Selain muda, istri yang pintar juga akan lebih melengkapi kebahagiaan dalam rumah tangga, terutama suami. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Swedish Institute for Social Research, Stockholm, pria bisa lebih sehat dan panjang umur jika menikah dengan wanita pintar.

Seorang Dokter, Dr Emmanuel Fragniere dan rekannya mengatakan bahwa wanita dan pria memilih pasangan berdasarkan kriteria seperti cinta, atraksi fisik, kesamaan sifat, kepercayaan, dan perasaan berbagi. Namun berdasarkan hasil survei, partisipan mengatakan bahwa faktor-faktor seperti usia, pendidikan dan budaya bisa mengurangi perceraian(vivanews.com)

Nah, bagi anda yang masih lajang sebaiknya carilah istri yang lebih muda umurnya dari anda biar hidup anda lebih bahagia.Selamat mencari pasangan… :-) :-)
Readmore »»

Indonesia Masuk 63 Negara Termiskin

Rekan-rekan,

Silakan baca berita dari Sinar Harapan edisi 8 Juli 2003. Sedih yaa..
Indonesia makin terpuruk.

Salam,
Fabby Tumiwa


Indonesia Masuk 63 Negara Termiskin
Kebijakan IMF Dan Bank Dunia Gagal Entaskan Kemiskinan

Jenewa, Sinar Harapan
Berbagai program internasional untuk membantu memajukan negara-negara miskin
di dunia terbukti gagal sehingga dibutuhkan perubahan radikal bila dunia
ingin mencapai target pengurangan kemiskinan, demikian sebuah laporan yang
disiarkan oleh PBB, Selasa (8/7). Selain memaksa negara-negara berkembang
mengurangi belanja publik mereka, IMF dan Bank Dunia seharusnya mendesak
negara-negara kaya agar menyediakan tambahan bantuan, demikian Human
Development Report 2003 setebal 367 halaman itu.

Meski ada asumsi bahwa seluruh negara di dunia mengalami pelambanan
pertumbuhan, laporan itu menyebutkan bahwa 54 negara semakin miskin
ketimbang situasi tahun 1990, dengan tingkat harapan hiup merosot di 34
negara, khususnya akibat epidemi HIV/AIDS. Dan 21 negara semakin kelaparan
dibanding kondisi tahun 1990. “Buat banyak negara, tahun 1990 merupakan
sebuah dekade tanpa harapan,” demikian laporan itu, yang disusun oleh
Program Pembangunan PBB (UNDP). Disebutkan pada taraf sekarang ini, dunia
gagal memenuhi sebagian besar “Sasaran Pembangunan Millennium” yang
disetujui oleh 119 negara anggota PBB pada tahun 2000. Ketika itu
dicanangkan agar kemiskinan bisa dikurangi setengahnya pada 2015 dan akan
ada langkah besar di bidang pendidikan, sanitasi dan kesehatan, mencegah
penyebaran HIV/AIDS, mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan dll.
Menurut laporan itu, pada saat ini yang hanya tercapai adalah mengurangi
jumlah orang yang hidup dengan kurang dari 1 dolar AS per hari. Dan itu pun
bisa tercapai karena kemajuan di Cina.

Sedangkan di Amerika Latinm sub Sahara Afrika dan bekas negara-negara Uni
Soviet, jumlah kemiskinan ekstrem akan meningkat. Administrator UNDP, Mark
Malloch-Brown, mengatakan sebuah “serangan gerilya” dibutuhkan bagi
“Konsensus Washington” itu, yang menetapkan berbagai kebijakan umum bagi IMF
dan Bank Dunia, termasuk penekanan pada pengawasan hati-hati terhadap
belanja pemerintah, reformasi perpajakan, liberalisasi perdagangan dan
privatisasi. “IMF dan Bank Dunia tidak boleh lagi menetapkan
sasaran-sasaran tinggi “ menyangkut pengeluaran, ujarnya. Laporan itu
menyebut kasus Malawi, yang telah menyusun sebuah strategi pengurangan
kemiskinan berdasarkan reseep IMF dan Bank Dunia. Namun rencana itu tidak
pernah mencapai Sasaran Pembangunan Millennium. “Malawi membutuhkan lebih
banyak bantuan donor, seperti juga negara-negara lain dalam situasi yang
sama,” demikian laporan itu. Studi itu mengatakan menyerahkan kepada
kekuatan-kekuatan pasar dan peningkatan pertahanan untuk mencapai
pembangunan itu tidak akan berhasil. “Intervensi publik dibutuhkan untuk
mencapai prakondisi bagi pertumbuhan ekonomi yang didorong pasar,” demikian
Sakiki Fukuda-Parr, ketua tim penulis laporan itu.

Urutan 112
Studi itu juga menyertakan laporan tahunan UNDP, Human Developmen Index,
yang menyusun daftar urutan 175 negara berdasarkan pada pendapatan per
kapita, tingkat harapan hidup, melek huruf dan anak yang bersekolah. Dalam
daftar itu, Norwegia selama tiga tahun berturut-turut, masih menduduki
peringkat pertama. Dua negara Skandinavia lainnya, Islandia dan Swedia,
menyusul. AS berada di urutan ke tujuh dan untuk pertama kali menyalib
Kanada, yang pada tahun 2000 berada di peringkat satu.
Pada peringkat 25 terbawah diisi oleh negara-negara Afrika sub-Sahara,
dengan Sierra Leone pada urutan 175. Indonesia berada pada urutan ke 112.
Sementara itu, Ekonom Asian Development Bank (ADB) di Jakarta, Amanah
Abdulkadir, yang dihubungi SH, Selasa (8/7) pagi, mengakui, secara umum
tingkat keseimbangan gizi, dan kesehatan di Indonesia memang mengalami
kemunduran dibandingkan dengan kondisi tahun 1997 atau sebelum terjadinya
krisis ekonomi di Indonesia. “Tingkat kesehatan anak balita misalkan, yang
menjadi perhatian kami memang mengalami penurunan, namun kami tidak
menggunakan ukuran 2 dolar AS per hari sebagai patokan tingkat kemiskinan,”
kata Amanah ketika diminta tanggapannya soal peningkatan kemiskinan
negara-negar di dunia yang disiarkan oleh PBB.
Ditambahkan Amanah, rekomendasi dari UNDP untuk tidak menerapkan sasaran
tinggi bagi negara-negera berkembang sebenarnya sudah dilakukan oleh lembaga
keuangan dunia termasuk ADB. mereka menginginkan agar negara berkembang
membuat suatu prosposal untuk mengurangi tingkat kemiskinan, untuk diberikan
bantuan.
“Sebenarnya bantuan pengentasan kemiskinan sudah berjalan. Namun, di Indonesia
hal ini belum bisa berjalan, karena harus dijalankan secara makro, dengan
melibatkan NGO dan masyarakat,” kata Amanah.(ap/xha/sam)
Readmore »»

10 Kepala Negara Terkaya di Dunia

Versi Majalah Forbes

10 Kepala Negara Terkaya di Dunia
Eddi Santosa - detikNews
Den Haag - Forbes, majalah bisnis dan keuangan AS, melansir daftar kepala negara terkaya di dunia. Tiga di antaranya kepala negara Timur Tengah yang baru saja dikunjungi presiden SBY. Sepuluh teratas daftar kepala negara terkaya di dunia itu dipublikasikan Forbes, Jumat (5/4/2006). Di urutan puncak adalah kepala negara Saudi Arabia, Raja Abdullah Bin Abdulaziz (82). Total kekayaannya mencapai US$ 21 miliar,
yang sebagian besar bersumber dari minyak. Abdullah naik tahta sebagai raja Saudi ke-6 menggantikan saudara tirinya, mendiang Raja Fahd, pada Agustus 2005. Selain raja, dia juga merangkap sebagai Deputi Pertama Perdana Menteri dan Panglima Garda Nasional. Di era mendiang Fahd hampir tidak ada pemisahan jelas antara kekayaan keluarga raja dan negara. Rakyat Saudi berharap Raja Abdullah lebih reformis dan mau melakukan pemerataan kekayaan lebih banyak lagi. Posisi di bawah Raja Abdulllah ditempati kepala negara Brunei Darussalaam, Sultan Haji Hassanal Bolkiah (59), dengan total kekayaan sebanyak US$ 20 miliar. Kekayan sultan yang istananya memiliki 1.788 kamar ini juga mengalir dari pendapatan minyak dan gas bumi. Di urutan ketiga adalah Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan (58), kepala negara Uni Emirat Arab (UEA), dengan total kekayaan US$ 19 miliar. Lagi-lagi sumber gelontoran uang yang membuat dia dan keluarganya kaya raya juga dari minyak. Sheikh Al-Nahyan naik menjadi penguasa Abu Dhabi (bagian dari UEA) pada 2004, menggantikan ayahnya yang mangkat, sebelum akhirnya menjadi presiden UEA. Tahun lalu, keluarga Al Nahyan membeli real estate senilai £ 1 miliar di West End, London. Kepala negara terkaya di dunia keempat adalah Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum (56) dari Dubai, dengan kekayaan mencapai US$ 14 miliar. Al Maktoum membiakkan kekayaannya hingga ke maskapai penerbangan dan investasi di mancanegara. Ia antara lain membeli London's Tussauds Group, punya saham di perusahaan otomotif DaimlerChrysler, perusahaan pembuat pesawat Doncasters dan real estate di AS. Di urutan kelima adalah Pangeran Hans Adam II von und zu Liechtenstein (61), dari Liechtenstein. Kekayaannya ditaksir mencapai US$ 4 miliar. Kekayaannya meliputi 3 istana abad ke-17, 4 rumah di pusat kota Wina (Austria), 20.000 ha tanah di Austria, LGT Bank, koleksi benda-benda seni termasuk lukisan karya maestro masyhur Rembrandt dan Rubens, dan Rice Tec Inc., perusahaan beras hibrida di AS. Pangeran Albert II (48) dari Monaco menyusul di urutan keenam, dengan total kekayaan US$ 1 miliar. Putera mendiang Pangeran Rainer III dan bintang film legendaris Grace Kelly ini memiliki casino Monte Carlo dan hotel mewah Societe des Bains de Mer. Yang mengejutkan, presiden Fidel Castro (79) dari negeri komunis Kuba menempati urutan ketujuh dengan total kekayaan US$ 900 juta. Kekayaannya antara lain mengalir dari El Palacio de Convenciones, sebuah convention center dekat Havana, Cimex, dan perusahaan farmasi Medicuba. Di posisi kedelapan adalah Teodoro Obiang Nguema Mbasogo (63) dari Guinea, Afrika. Kekayaannya ditaksir mencapai US$ 600 juta. Ratu Elizabeth II (80) dari Inggris menempati urutan kesembilan, dengan total kekayaan US$ 500 juta. Harta kekayaan kerajaan yang dimiliki negara seperti mahkota dan Istana Buckingham tidak dihitung. Di urutan kesepuluh adalah Ratu Belanda Beatrix Wilhelmina Armgard (68), dengan jumlah kekayaan US$ 270 juta. Beatrix memutar kekayaannya antara lain dengan memiliki saham di ABN AMRO Bank dan perusahaan minyak Royal Dutch Shell. Kekayaan lainnya meliputi benda-benda antik dan seni, serta real estate. (es/)



Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda! Readmore »»

Negara -Negara Paling Miskin

Negara-Negara Paling Miskin
1.Myanmar
2.D.R Congo
3.Burundi
4.Liberia ( Bahasa resmi Inggeris)
4.Guinnea Bissau
5.Niger
6.Sierra Leone(Bahasa resmi Perancis)
7.Ctrl African Republic
8.Eritrea

9.Afghanistan
10.Togo
11.Malawi( Bahasa resmi Inggeris)
12.Ethopia
13.Mozambique(Bahasa resmi Portuguese)
14.Rwanda
15.Uganda
16.Mali
17.Guinea
18.Madagaskar
19.Com orros
20.Nepal
21.Bukino Faso
22.Haiti( Bahasa resmi Perancis)
23.Tanzania
24.Lesotho
25.Bangla Desh

Di atas adalah negara yg termiskin di dunia
Sumber dari Wikipedia!
Readmore »»

BEDUG TERBESAR DI DUNIA


BEDUG TERBESAR DI DUNIA
Di Masjid Agung Darul Mustaqiem Purworejo

Ada sebuah pameo: “Bila ingin melihat bedug terbesar di dunia datanglah ke kota Purworejo.” Pameo tersebut memang benar. Di dalam Masjid Agung Darul Mustaqiem Purworejo yang lokasinya terletak di sebelah barat alun-alun kota, terdapat sebuah bedug yang sangat besar dan memiliki nilai sejarah yang ada kaitannya dengan keberadaan kota Purworejo. Bedug yang diyakini sebagai bedug terbesar di dunia ini, dibuat pada tahun 1762 Jawa atau 1834 M. atas perintah Bupati Purworejo,
Tjokronegoro I, yang makamnya di Desa Bulus, Kecamatan Gebang, kabupaten Purworejo.

Panjang bedug rata-rata 2,92 cm. garis tengah bagian depan 194 cm dan garis tengah bagian belakang 180 cm. keliling bagian belakang 564 cm.

Cerita selengkapnya dapat dilihat di majalah WAYANG edisi No. 03/TH – Juli 2008.
Readmore »»

PERSIAPAN DAN PERLENGKAPAN DALANG UNTUK MENUJU PENTAS


PERSIAPAN DAN PERLENGKAPAN DALANG UNTUK MENUJU PENTAS
PostAuthorIcon Author: Admin



Oleh : Ki Asman Budi Prayitno

Apabila kita berbicara tentang Dalang, tentunya kita akan berpendapat dengan beranggapan bahwa dalang adalah pelaku titik awal dari salah satu sumber yang merupakan faktor utama terjadinya suatu hasil aktifitas atau tragedi yang identik dengan seni budaya dalam dunia pewayangan. Melalui rubik ini penulis sengaja mencoba untuk menguraikan tentang profesi seorang dalang yang berkecimpung di dunia pewayangan.

Dalam hal ini dalang juga berfungsi sebagai subyek yang merupakan suatu sumber karyaseni yang di ungkapkan melalui penyajian-penyajian dalam alur sebuah cerita. Tak lepas ketika seorang dalang akan melajalankan tugasnya untuk memulai mendalang. Sebagai seorang dalang tentunya semua materi telah dipersiapkan sedemikian rupa dalam bentuk sebuah kemasan kongkrit dan abstrak. Persiapan kongkrit adalah sarana atau perlengkapan dalam mendalang. Persiapan abstrak yaitu wawasan pemikiran yang merupakan daya ingat dan ilmu yang telah dimilikinya .
Perpaduan ilmu formal dan non formal biasanya akan membentuk sumber daya manusia dari dalang itu sendiri yang akan mewujudkan pola piker genius, baik itu mengeanai wawasan dan pengalamannya. Tentu saja harus memperkaya ilmu-ilmu pedalangan semaksimal mungkin, dari sejak awal hingga sang dalang itu sendiri mencapai tingkat kesempurnaannya.
Readmore »»

DRUPADI


DRUPADI
PostAuthorIcon Author: Admin

WANITA DENGAN BERBAGAI PEMUJAAN

Karena engkau menginginkan mempunyai suami yang berguna (berkepandaian) ilmu dharma, keberanian, kekuatan, berpengetahuan dan sopan santun, maka kelak pada penjelmaanmu yang berikutnya engkau akan bersuamikan lima orang lelaki, dan karena kulit tubuhmu berwarna hitam, engkau bernama Pancali atau Dewi Kresna. “Kata Hyang Cangkara”.

Hari sudah menjelang senja dan disekelilingi puncak gunung Warawendya sudah menampakan cahaya kekuningan sebagai pertanda terbenamnya matahari. Namun mendadak suatu keajaiban terjadi. Diawali suara guntur yang menggelegar dan kilatan halilintar, cahaya merah kekuningan di puncak gunung Warawendya berubah menjadi merah menyala dipuncak gunungpun nampak bergetar seperti tengah terjadi gempa bumi yang amat dasyat.
Readmore »»

Reog Ponorogo







Reog Ponorogo
Spirituality, Sexuality, and Power in a Javanese Performance Tradition


Ian Douglas Wilson








Figure 2: Entrance gate to the town of Ponorogo
(courtesy of Josko Petkovic)


1. The East Javanese town of Ponorogo, nestled in a remote valley between two extinct volcanoes, has long had a reputation throughout the island for the magical powers and sexual potency of its inhabitants. It has a long history of violent and radical politics, with a well-established tradition of rebellion. Two figures
central to this image are the warok and gemblak. The term warok is said to originate from the Javanese words uwal and rokan meaning to be free from forced labour.[1] Due to their martial and magical abilities, the warok were often advisers and strong men for the local ruler, and hence free from the obligations of ordinary villagers. Another popular interpretation suggests that the term originates from the Arabic word waro'a, meaning an ascetic, or one who practises mysticism. Onghokham draws attention to the influence of warok and jago (men of prowess] as leaders in village political life.[2] The warok was rarely part of the official government, and thus played a somewhat ambiguous role, residing in the margins of social and political life. On the one hand his standing amongst villagers made his support crucial for any aspiring ruler and he often acted as an agent for higher authorities. At the same time, however, his unofficial status also made him a potentially dangerous adversary and troublemaker. The warok was a power broker, an intermediary between higher and lower powers, in the concrete and cosmological sense. His authority was intensely personal, depending on mastery of invulnerability, silat [martial arts], magic, and religious knowledge, as well as the fear and admiration with which villagers regarded him.










Figure 3. Jatilan Dancer sits astride the Singobarong
(courtesy of Charlie Jebb)


2. The warok tradition finds its roots in a mythology of rebellion. According to one popular historical account, the warok tradition began with Ki Ageng Kutu, the court poet of the last king of the Majapahit kingdom, Bra Kertabumi, in the fifteenth century.[3] Angered at the political influence of Kertabumi's Chinese consort, and the king's endemic corruption, which he saw as a sign that the kingdom would soon come to an end, Ki Ageng Kutu deserted him, establishing a parguron [school for the study of esoteric knowledge] where he taught local young men invulnerability magic, martial arts, and ilmu kasampurnaan ['science of perfection'] in the hope that it would form the basis for a revival of the Majapahit kingdom. Students of Ki Ageng Kutu were known as warok. As a devoted adherent of Tantrayana Buddhism Ageng Kutu believed that spiritual strength could only be achieved through the negation of physical desires. Warok were said to follow a strict regime of ascetic discipline, one of the parguron's rules being that they were forbidden to have sexual intercourse with women. This prohibition was predicated on the belief that the resulting loss of sperm would deplete their supernatural powers. To aid them in their endeavour, each warok enlisted the aid of a young boy known as a gemblak who acted as a 'substitute' woman. Realising, however, that his small band of warok could never defeat the forces of Kertabumi in an armed struggle, Ki Ageng Kutu used performing arts to propagate his political message amongst the local population and thus build a movement of popular resistance. The dance drama that he created, known as reog, satirised king Bra Kertabumi and his court. A spectacular tiger mask known as a singabarong, the lord of the jungle, symbolised Kertabumi, whilst the fan-like peacock perched on its head represented his Chinese consort and the influence that she wielded over him. The effeminate jatilan [hobby-horse] dancers known as gemblak satirised the weakness of Majapahit's army, which contrasted dramatically with the very real strength of the warok who wielded the singobarong mask, weighing over 50kg, by a wooden strut held between his teeth. The hideous red faced clown Bujannganong represented Ki Ageng Kutu himself, his sexually provocative and acrobatic dance movements making a mockery of the affected refinement of royalty.


(To enable your computer to display a moving version of the video clips in this paper, you need RealVideo version 5 plug-in, or an alternative, for your browser.)


3. Troubled by the growing popularity of Ki Ageng Kutu's reog, Kertabumi's forces mounted a series of attacks on his parguron, quickly defeating the warok rebels. The parguron were disbanded and warok practices outlawed. However, several of Ki Ageng Kutu's students continued their esoteric studies in secrecy. Ki Ageng Kutu himself is believed to have performed moksa. Due to its popularity amongst villagers, reog performances were still permitted, but the satire and political critique were replaced by legends from the Panji cycle of myths with the addition of several new characters taken from Ponorogo folklore: Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.[4] The Ki Ageng Kutu story can in many ways be read as a prototype for the warok's relationship with the state and the image of the warok as an idealistic rebel. From its beginnings through the colonial era and into the present day warok culture has regularly experienced intermittent periods of prosperity, suppression, and recuperation at the hands of colonial and indigenous authorities.

4. In contemporary Ponorogo there are two contrasting sets of discourse which are seen to characterise warok: as a forceful, spiritually enlightened, charismatic leader and inspired artist, or as a ruthless predator, sexual deviant and criminal. It is commonly held that there are two types of warok: the warok sejati, or true warok, and the warokan, or pseudo warok, also a euphemism for a thief or bandit. Indeed, aside from informal leadership and esoteric learning, warok culture has frequently served as a pose for marginal and criminal elements within traditional Ponorogo society. According to the contemporary warok Kasni Gunopati, the ideal 'authentic' warok has the soul of a satriya [noble warrior] and acts without self interest [pamrih] whilst the warokan uses his supernatural powers for his own personal gain.[5] Yet both are endpoint examples of an ideal-type continuum. It is in the ambiguous space between these two representations that warok culture draws derives its power. The axis around which these two contrasting discourses of the warok revolve is the idea of kesaktian, supernatural power and potency.[6] Kesaktian in itself is 'beyond good and evil,' its possession not indicative of any particular code of ethics or morality. It has no intrinsic properties, only situational ones. The warok, as a potent individual, resides in an interzone of ambiguous potentiality. For some, he is a 'criminal' or 'revolutionary,' to others a leader and activist. The negative image, which the indigenous elite and colonial officials associated with the warok, was in part an effect of the increasingly bureaucratic and conservative political structures that began to develop after the political upheavals of the 1920s.[7] The warok's indiscipline, questioning of hierarchy, shallow loyalties and volatile sense of honour all impeded the formation of the colonial state. Due to its association with the troublesome warok, the Dutch colonial government prohibited reog performances from 1912 until 1932. As one Dutch administrator stated 'reog attracts large numbers of people seeking supernatural power, which undoubtedly poses a threat to security.'[8] As far as rural society was concerned, indeed, the warok came to be considered as semi-sacred figures. The warok's spiritual quest involved a dissemination of the esoteric knowledge associated with the political-spiritual elite to popular culture. The concept of kekebalan [invulnerability] attributed to warok was especially stressed within rural leadership, and in that sense it constituted a counter-elite value, contrasting with the quality of wahyu [divine providence] that was so important to aristocratic leadership as well as to the post-independence Indonesian government. The warok was kebal to the oppressive powers of the state, and it was because of this invulnerability that he could get away with so much.

5. The 'rebellious' behaviour attributed to warok and their reog troupes by the newly formed Indonesian state, an attitude inherited from the former colonial government, was confirmed on 18 September 1948 when troops loyal to the Indonesian Communist Party took over strategic points in the Madiun area to the north of Ponorogo, declaring a new revolutionary government. Warok and reog troupes aligned with the communist Barisan Reog Ponorogo [Ponorogo Reog Front: BRP] swelled the ranks of the Madiun rebels. The crushing of the attempted coup two weeks later by the Republican army was followed by an eruption of violence between Muslim and communist villagers which resulted in the virtual elimination of village based reog troupes. In the 1950s the communist and nationalist parties used warok and reog extensively as part of their recruiting campaigns. The Communist Party's populist rhetoric and opposition to orthodox Islam appealed to many warok, and their focus on the recruitment of local strongmen meant that the warok found a ready place in party hierarchy. The reog's ability to attract large numbers of people made it the perfect campaigning tool. The discipline and secrecy demanded of party members also exerted a powerful appeal to warok and jago, having strong similarities to the structure of parguron and pesantren [religious boarding schools].[9] Under the New Order, communist affiliated troupes came under immediate suspicion, and many of those that weren't eliminated during the massacres of 1965 went into hiding.[10] Informants in Ponorogo recounted how troops loyal to Suharto were unable to kill several warok affiliated with the Communist Party due to their mastery of invulnerability.[11] It wasn't until the elections of 1971 that reog was performed publicly again. However, performances were from the traditionalist Islamic organisation Nahdatul Ulama, as part of official election celebrations and village chiefs now directly coordinated Reog groups. In 1977 the INTI [Insan Taqwa Illah: Loyal Followers of God] was formed by several Ponorogo reog troupes associated with the traditionalist Muslim organisation Nahdatul Ulama to 'clean up' reog, especially warok practices. Since this time, the New Order government has sought actively to eliminate warok as a political force, both through the marginalisation of reog as a 'traditional' or 'folk' performance, and more direct means. Several prominent warok and gambuh [troupe leaders of the jaranan trance dance] were targeted victims of the 1983 Petrus 'mysterious shootings'.[12]


Pak Sobrani: In the past a warok was an outstanding person, a person who studied esoteric knowledge in its totality, achieving spiritual and physical invulnerability. They had much knowledge. They were invulnerable, you could do anything to them without effect. They could create anything.

Question: Can they have wives?

Pak Sobrani: In the old days waroks liked young boys, like these ones ... they are called gemblak. Warok and gemblak go hand in hand, they can't be separated.


6. As mentioned above, warok forfeit sexual relations with women in order to accumulate spiritual power. According to Benedict Anderson, sexuality and power are inextricably linked in Javanese thought.[13] As is common in the Tantrayana Buddhist tradition from which warok/gemblak practices evolved, sperm is considered a concentration of power, as well as a means of its transmission, which can be transmuted into superior forms of energy/consciousness. Through sexual abstinence the warok accumulates this power within himself. Ascetic practice strives to deliberately transform sexual desire into spiritual attainment. The seeming contradiction between the emphasis on sexuality as a sign of potency and power and the sexual abstinence required to achieve it is reconciled in the warok tradition through the figure of the gemblak. As a 'substitute' for a wife the warok chose a beautiful young boy, who acted as his companion as well as a jatilan dancer in his reog troupe. The beauty of the gemblak, in the eyes of the warok, came from their androgynous like features, grace, and poise. The boy was chosen from a neighbouring area and usually aged between eight and sixteen years. The warok would send a delegation to the home of the boy's parents to 'propose,' the patterns of ritualised speech employed being very similar to that used in proposals for heterosexual weddings. Traditionally the boy's parents would be paid in the form of a cow, one for every year that he was with the warok. In addition, the warok took responsibility for feeding, clothing and schooling him. The economic benefits that arose from this agreement made it a desirable option for many poor farmers, who also gained considerable social prestige, as well as the protection of the feared warok. Not all parents however approved of their sons becoming gemblak, and many boys are afraid of warok. In Ponorogo a common threat used against children is that if they don't behave, a warok will come and get them. Warok are reputed to use magical powers obtained through extended periods of fasting to 'seduce' [merayu] reluctant gemblak. One method used was to recite special mantra over a cigarette, which would then be surreptitiously placed in the boy's clothing. On smoking the cigarette the boy would be rendered powerless to resist the warok's advances. Warok were fiercely possessive of their gemblak. Rivalry between warok over gemblak was intense and was a common cause of violent conflicts that often ended in fatalities. If in public, they would often carry them on their backs out of fear that they would be kidnapped by a rival. The gemblak performed domestic chores for the warok such as washing and cooking, accompanying him where ever he went. The physical appearance of the gemblak was a matter of immense pride for the warok and they dressed them in finest of clothes and powdered their faces so that they would maintain a pale complexion. Events such as wedding ceremonies or reog performances provided an opportunity for the warok to display his retinue of anything upward of ten gemblak. For many young boys, being a gemblak was accepted as a certain stage in the journey to manhood and the majority of gemblak stayed with their warok until their late teens. The warok played an active role in choosing the gemblak's wife and in many cases performed the religious rites at the wedding. On marriage, the gemblak's attractiveness to men is said to disappear.

7. As a cultural practice, the warok/gemblak relationship could be seen as helping to preserve heterosexual relationships by providing an acceptable outlet for sexual desires. At the age of around forty, warok, whose powers at this time were thought to be fully developed, would often marry in order to produce offspring. Within Ponorogo society there is another similar social institution known as sinoman whereby a group of young village men choose a young boy to act as their mascot. In order to facilitate good relations with neighbouring communities sinoman groups would exchange their mascots for short periods of time. It was well known that the boy was expected to sleep with the sinoman members. Contemporary warok however, for the most part, stridently deny that they have sexual relations with their gemblak. On one level this denial could be regarded as an act of self-defence against accusations of immorality. It also suggests, however, that their conception of the relationship is radically different to that of outsiders. The logic behind their argument is simple: loss of sperm leads to a depletion of spiritual power. It is for this reason that warok keep gemblak, to help them in their endeavour to free themselves from all worldly desires. As Pak Sobrani, a contemporary warok, put it, 'with gemblak the most that can happen is a bit of harmless kissing and cuddling. But close association with women will definitely lead to sexual intercourse which will result in the warok losing his powers.'[14] Consequently, if a warok was to have sexual relations with his gemblak it would in affect defeat the very purpose of the relationship. By the same logic if a warok did succumb to his desires, he would by definition no longer be a warok but rather a warokan or 'pseudo-warok.' Even if we accept the warok's explanation we are still left wondering as to the emphasis placed on the boys' feminine beauty.[15] It could perhaps be merely an issue of artistic judgement, remembering the gemblak's role as a dancer in reog performances.

8. The official view adopted by local government regarding the warok/gemblak relationship is that it is morally offensive and in conflict with the 'national personality' [kepribadian bangsa]. The relationship is deemed to be unacceptable because it is considered to be nothing more than 'socialised homosexuality,' and a potential threat to public order.[16] Up until recently, in Ponorogo, intimate same-sex relationships were generally considered to be both normal and acceptable for unmarried men in contrast to heterosexual relations outside of marriage which were seen as both morally and spiritually debilitating. As one warok explained, 'association with women will cause brittle bones, a soft stomach and a loss of spiritual strength,' adding 'that's why I've grown to be a man who harbours a hatred of women.'[17] The emphasis in traditional Ponorogo society on same-sex relationships evolved from a social system which segregated on the basis of gender. This quite naturally led to intense, but not necessarily sexual, relationships between men and between women. Within the context of closed all male communities such as parguron, this type of relationships were actively encouraged. In earlier times warok never received any moral condemnation on sexual grounds, only on grounds of black magic and other forms of violence.[18] Whilst one might assume that the practice of taking gemblak would find opponents in traditionalist Islamic circles, the religious boarding schools [pesantren] in the area have long been renowned for their homosexuality.[19] According to Dede Oetomo, homosexual relations between pesantren pupils, known as amrot-amrotan ['to play woman'], are condoned and even institutionalised as a part of the learning process.[20] Vocal opposition has emerged however from modern reformist groups such as Muhammadiyah. Several prominent kyai [religious teachers] from the famous pesantren Pondok Modern Darussalam have actively pressured local government to bring reog culture more into line with their own particular version of religious orthodoxy.[21] Whilst religious activists can be held partly responsible for the official condemnation of gemblak practices, the stance taken by the government also reflects a more general shift in moral standards brought about by the perceived demands of 'modernisation' [ modernisasi] and 'development' [pembangunan] in rural Indonesia. As early as the late 1950s and 60s some reog troupes aligned with the PNI and PKI had abandoned gemblak participation in performances on the grounds that they considered it to be at odds with their respective programs of modernisation and social reform.[22] The state run education system has played a substantial role in socialising the perspective that gemblakan is a negative and outdated cultural phenomenon alongside family planning programs that sanctify the nuclear family unit as the foundation of the nation. Fewer and fewer young men are now interested in becoming gemblak. Pak Kasni Gunopati notes that those who do become gemblak now are largely motivated by the promise of material gain. 'In earlier times the gemblak faithfully and selflessly served their warok. Now they aren't afraid to ask for money or new clothes.'[23]

9. The government's moral condemnation of the warok/gemblak relationship is further clarified when situated within a historical context in which reog and warok culture are still closely associated with criminality, rural radicalism, and the outlawed Indonesian Communist Party, the bogey man of New Order political discourse. All of this was radically at odds with the New Order's characterisation of 'traditional Javanese peasant culture' as being emotionally self-restrained, regulated and orderly. One of the most distinctive features of New Order rule was the extent to which rhetoric of culture enframed political will. Culture, especially 'traditional culture,' came to epitomise order in contrast to 'politics,' which was considered synonymous with disorder. If it was to classify as an example of 'traditional culture' reog and the warok tradition had to be reinvented. Since the early 70s the New Order has undertaken an ambitious project in social and cultural engineering.[24] Their intention was twofold: to ensure that regional identities did not threaten national unity, and to 'create and maintain the socio-cultural conditions which can accelerate the progress of development.'[25] Performing arts were of central importance to this exercise because, as one Department of Education and Culture document states 'art constitutes the most visible aspect of culture, to the extent that culture is often considered to refer only to art.'[26] In 1985, as part of a nation wide program to establish regional identities, reog was chosen by the East Javanese Department of Education and Culture as the official art form for the Ponorogo regency. Working closely with the Nahdatul Ulama's aligned reog organisation Insan Takwa Illahi, the government actively sought to eliminate reog of elements deemed either politically or sexually subversive. Department officials 'upgraded' [meningkatkan] the 'artistic quality' of reog performance, creating a standardised and sanitised version that has become the benchmark for gauging 'authenticity.'[27] Based upon a dichotomy between what are considered to be two separate Javanese artistic traditions, the kesenian leluhur [high art] of the royal courts and the kesenian rakyat [people's art] of the rural and urban poor, local Department officials act as the appointed representatives of the state, the purveyors of 'high art' by comparison with the 'crude' [kasar] arts that local communities are assumed to practice.[28] Aside from discouraging practices involving communication with ancestor spirits, the government outlawed the taking of gemblak in 1983, encouraging reog troupes to replace gemblak dancers with young girls. The eroticism and sexual tension of the performance still remains, but does not challenge dominant state discourses regarding sexuality.











Figure 6. Advertising 'Traditional Culture':
Roadside billboard promoting the 1996 Grebeg Suro celebrations.


10. The warok tradition is not considered to be commensurate with modern day official concepts of law and order, hence 'official' documentation produced by the Department of Education and Culture promotes legends such as Kelono Sewondono/Songgolangit and Wijaya/Kilisuci, both of which link warok to 'legitimate' political structures. Archaeological findings in the late 1980s suggesting that Ponorogo was the site of one of the first royal courts in East Java [kerajaan Wengker] has led to a mini-renaissance of 'aristocratic' culture headed by the Regent of Ponorogo, who has used his new found status as a moral platform from which to implement far reaching reforms of warok and reog culture. Indeed it is common practice in Java that political leaders try to associate themselves through court legends and lines of descent (be they invented or otherwise) to previous dynasties. A performance as part of the official celebrations for Grebeg Suro [Javanese new year ] in 1991 involved an elaborate re-enactment of the Kelono Sewondono-Songgolangit legend, performed in the wayang wong style, a form of halus ['refined'] theatre associated with the royal courts of central Java.[29]


Figure 7. A Kelono Sewondono performer:
1992, Grebeg Suro celebrations.
(courtesy of Josko Petkovic)


11. In a speech preceding the performance, the Bupati, dressed in a warok costume, complete with a kolor, the thick white waist cord used by the warok as a weapon as well as being a symbol of his supernatural strength, stressed the importance of 'developing' reog as a tourist attraction as well as using it as 'tool' [alat] for ensuring 'order' [ketertiban] and 'stability' [keamanan].[30]











Figure 8. Procession led by members of civilian defence units
as part of the 1992 Grebeg Suro celebrations.
The banner reads,
'With Grebeg Suro let us preserve the art of Reyog Ponorogo.'
(courtesy of Josko Petkovic)


12. Such 'rites of hegemonisation,' along with other contemporary dance creations such as the 'reog ballet' Warok Suromenggolo, seek to recuperate the image of the warok in accord with the demands of 'tradition' as constructed by the New Order. Both portray the warok not as a 'rebel' or charismatic spiritual leader, but as a loyal functionary of the state. In Warok Suromenggolo a highly exaggerated, stylised battle is enacted between two 'waroks' complete with fake beards, and chest hair.[31] The spiritual powers [or presence] of the real warok is replaced with dance movements that simulate and subsequently trivialise the magical power [and consequent political power] that the warok sejati once had. The warok tradition is recuperated, then cast off as a historical curiosity. Yampolsky notes that one way used by the New Order to disown unacceptable elements of a traditional art form, aside from openly suppressing them, has been to parody them.[32] During demonstrations in the build up to the resignation of Suharto in May 1998, the Regent of Ponorogo employed thugs dressed in traditional warok costumes to intimidate student protesters.




Figure 9. A masked Bujangga Anom performer flanked by
two female jatilan dancers on stage at the 1992 Grebeg Suro celebrations.
(courtesy of Josko Petkovic)


13. Traditional warok costumes can be bought in local markets and clothing stores along with other warok regalia such as akar bahar [a bracelet made from black coral] and walking sticks. Festivals such as Grebeg Suro see many young Ponorogo men become 'a warok for a day.' According to one renowned warok the authentic warok tradition of Ki Ageng Kutu still survives but is now 'invisible,' in the sense that warok are no longer socially identifiable. As he put it, 'those who go around now calling themselves "warok" are in reality warokan.'[33] Perhaps what he is suggesting is that as soon as the warok is named, represented or mediated, he is no longer a 'genuine warok,' a warok sejati. The integrity of the tradition is maintained through a kind of occultation, by refusing to engage in the spectacle of 'traditional culture.' This tactic of 'invulnerability' finds precedent with the followers of Ki Ageng Kutu who, faced with the outlawing of their parguron and the recuperation of reog by the state, retreated into the realms of esotericism and secrecy. The state, through its invention of an 'authentic' warok tradition seeks to 'recover the horizons of its power by containing that which would appear otherwise.'[34]


VIDEO CLIP: Figure 10. A reog troupe leader with his gemblak
(Courtesy of Josko Petkovic)

Warok: This is my boy ... this is the gemblak who I have cared for since he was in grade 4 of primary school. I put him through primary school, then I put him through high school, then to technical school. I got him a job in a craft factory. They make products that are sent to Germany and America, things like rattan chairs. I've let him go now as he's working. He used to be my jaranan dancer. I chose a good one. His nose is like an Australian's! He has a pointy nose. Basically he has a Western type face. Why did I choose him, because if my jaranan isn't as good as the village headman's I would be embarrassed. I must have a handsome boy. He's also always on the lookout for handsome boys.


14. However the emphasis placed on the 'spirituality' of the relationship by the warok suggests that for them and their gemblak at least, there is also a metaphysical explanation. The 'beautiful face' is for the warok a sign of the perfection of created things. It is a sign of good fortune, and its contemplation a jealously guarded privilege. The late Mbah Mardi, a renowned warok, commented that the beauty of a gemblak could unite the community since 'everybody loves a handsome face.' Margaret Kartomi in her article on reog notes that the transvestite is a frequently occurring figure in Javanese dance, drama, and ritual, suggesting that the gemblak personifies the philosophical unity of male and female.[35] The juxtaposition of male and female elements within a single entity expresses the complementarity of opposites, which in turn reflects the unity of the cosmos. Errington also suggests that in the traditionally 'Indicized' states of island Southeast Asia, transvestites were considered to be embodiments of cosmic unity and ancestoral power.[36] In Ponorogo it was widely believed that gemblak possessed fertility powers, so they were often asked to share a bride and bridegroom's bed on the night of their sexual consummation in the belief that the bride would quickly fall pregnant. Reog involving gemblak dancers is still performed at weddings and circumcision celebrations in the belief that it will channel ancestoral blessings. However unlike the cross-dressing performers in the Javanese theatre ludruk, gemblak are not specifically identified as transgendered males or waria ['women-men'], an officially recognised 'third gender' in Indonesia. In everyday life, and within the context of reog performance, gemblak generally do not adopt distinctly female dress or persona, though there are exceptions (as can be seen in video1). Oetomo notes that within Indonesian society the category waria or banci is more generally used as a label for nonconformist gender behaviour and identity. They are tolerated, as it is commonly believed that they are asexual and hence not constitute a threat to heterosexual relations. While gemblak would appear to fit into this broad category, I have never heard the terms applied to them either by themselves, warok or ordinary residents of Ponorogo.[37] Hence we must resist the temptation to impose what to the warok and gemblak are alien categories.

15. Pak Kasni Gunopati suggests that the gemblak 'contains a secret' [minyimpan rahasia] for the warok.[38] The gemblak is not merely an aide to the warok's asceticism, but is himself an object of ascetic contemplation. The attraction that the gemblak holds for the warok may refer to 'purely human' attraction or to 'spiritual attraction,' to the warok's desire to unite with the primordial essence as manifested in the gemblak, or both. Situating warok ascetic practices in the context of an essentially monistic spiritual tradition, be it Javanist-Hindu-buddhist or Javanist-Islam, one can begin to speculate, albeit tentatively, as to the 'secret' that may underpin the relationship. It is 'tentative' in the sense that I am abstracting, formulating a theoretical framework from a series of practices, customs, and popular accounts. As a tradition performed and patronised by the lower strata of Javanese society, warok culture is rich in oral tradition yet scarce in textual sources. Warok rarely refer to literary works when talking about their spiritual practices, and, due to the secrecy that surrounds their beliefs and practices, their own explanations are often obscure and indirect. It is also perhaps informative to draw comparisons with similar practices found in other mystical and martial traditions such as shahed bazi ['witnessing of the unbearded'] within certain strains of heterodox Persian sufism, and shudo ['the way of the young man'], the religiously framed pederasty practiced by the Samurai.[39] In each case a beautiful youth is transformed by the mystic's gaze into a symbol of the perfection of created form. According to Judith Becker, Tantric teachings in general, including those found in Java, place a particular emphasis on aesthetic appreciation in its original meaning as 'sense perception.'[40] The refinement of this perception can lead to a heightened state of consciousness and a dissolving of the boundaries between oneself and the thing perceived.[41] The key term for understanding this process is the Sanskrit derived Javanese word rasa which traces a continuum of meaning from 'feeling' in the literal sense, through progressively more subtle levels of perception of the emotions, and ultimately arriving at the experience of rasa sejati 'the absolute or true feeling which is itself mystical awareness of the fundamental vibration or energy within all life.'[42] At this level of meaning rasa also indicates rahsa or rahasia, 'secret' or 'essence.' It is possible that the warok's aesthetic contemplation of the androgynous form of a beautiful gemblak, combined with the accumulation of life-force produced by chastity, was intended to provoke in him a radical apprehension of the perfection of created form. As a symbolic embodiment of the incorporation of seemingly opposed elements [male/female] the gemblak functioned as a metaphor for cosmic unity, but through the agency of rasa he also acted as a modality for the warok, a means by which to experience it. This is the rahasia symbolised by, and experienced through, the gemblak.

16. The primary difference between the warok and an ordinary man, or warokan, is that the latter indulges his passions without restraint, whilst the former maintains the disciplined steadfastness and focus necessary for the accumulation of power. Ascetic practice in Java generally requires that one withdraws from interaction, which is always fraught with the danger of desire, need and dependence, in order to gain potency. The warok on the other hand, in his intimate relationship with his gemblak, intentionally places himself in what, to outsiders at least, is perceived as an exceedingly dangerous situation. Through his refusal to succumb to the natural impulses perceived as latent in such a situation, the warok fulfils a cultural ideal of self-control and spiritual power. He resides on a 'plateau of intensity'[43] that can only be reached through the denial of sexual climax.


VIDEO CLIP: Figure 11. Interview with Pak Sobrani, a contemporary warok.
(Courtesy of Josko Petkovic)

Question: Did you have a gemblak?

Pak Kasni Gunopati: Yes. In the times when I was seeking ilmu [knowledge], as we say in Javanese. The gemblak was my friend. If I was tired and wanted to rest he would accompany me. But it wasn't like it is now were it's always inside the house. Then it could be anywhere quiet. As a gemblak he would assist the warok in carrying out the teachings of his guru.


17. Such power is accumulative: the greater the number of gemblak a warok has, the greater his 'potency,' both spiritual and economic. The late Mbah Mardi claimed to have had up to 90 gemblak at the peek of his power.[44] This is not to suggest however that the relationship between the warok and his gemblak did not have a physical aspect, for in many cases it undoubtedly did. Ascetic self-denial is, for the warok, a means to an end, not inherently 'good' in itself. Hence if a warok was to succumb to his desire for the gemblak it would not be considered a 'sin,' so much as a set back on his quest for power.

18. My intention here has been to provide an alternative, albeit 'ideal-type' explanation of the relationship that foregrounds the 'spiritual' dimension emphasised in the discourse of warok's themselves, as well as situating it within the cosmological framework from which it may have emerged. Tantric and 'power orientated' forms of spirituality have been increasingly marginalised in New Order Indonesia in favour of more orthodox forms of religious expression. The suspicion with which such practices are viewed is at least partly due to the tendency of the movements based upon them to transform into political activism.[45] From the perspective of both religious modernists and government officials the warok/ gemblak relationship is simply unrecognisable as an example of 'spirituality,' let alone formal religion. Taking this into account the accusations of homosexuality express not simply a moral judgement, but a clash of worldviews. Consequently, if the relationship is to continue it must be redefined in language that is both recognisable and acceptable to local authorities. One response adopted by certain sectors of the reog community has been to frame the warok-gemblak relationship as being an example of a 'foster child' arrangement in which the warok, in his role as a village elder [sesepuh], takes responsibility for a disadvantaged local youth. INTI has long argued that the 'real' meaning of gemblak is in fact that of a foster child, insisting that homosexuality only occurred due to the degenerative influence of the Dutch.[46] Yet not everyone has been convinced. In the words of a former Regent of Ponorogo, 'they [warok] claim that their gemblak are really foster children, so what can we do?'[47] Whilst the Regent does expresses scepticism towards the warok's explanation he also concedes that he is powerless to act against it. Perhaps ultimately what is important to the government is not whether or not warok really do engage in sexual relations with their gemblak, but that the relationship at least has the appearance of 'respectability.'

19. With the first multi-party democratic elections in Indonesia in over forty years scheduled for this June it will be interesting to see if reog and warok culture is once more 'politicised' as it was in the campaigns of the 50s and 60s. In the current climate of political and social upheaval and popular backlash against the authoritarian social engineering of the Suharto era, it is possible that the warok tradition may once more become a vital force in the political and cultural life of Ponorogo.[48]
Readmore »»

"KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH DHUHA"

“ KEUTAMAAN SHALAT SUNNAT DHUHA “
Oleh : H. Sunaryo A.Y.

Shalat Dhuha ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu Matahari
sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau
sekitar setinggi satu tombak yaitu antara pukul 07.00 pagi sampai masuk
waktu Dzuhur, ( sekitar pukul 11.00 siang ).
Adapun dalil Shalat Sunnat Dhuha adalah sabda Rosulullah SAW

dalam beberapa Hadist dari Sahabat Abu Huraira ra antara lain sebagai
berikut :
• Bersabda Rosulullah SAW :
“ Siapa saja yang dapat mengerjakan Shalat Dhuha dengan langgeng, akan di
ampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan. “
( HR Tirmidzi )
• Nabi Muhammad SAW bersabda :
“ Sesungguhnya di Surga itu ada pintu yang disebut pintu Dhuha, maka
tatkala di hari Kiamat nanti ada panggilan khatib : “ Siapakah orang yang
suka membiasakan shalat Dhuha ? Inilah pintu kamu sekalian, masuklah kamu
sekalian dengan penuh Rahmat Allah SWT. “ ( HR Thabrani )
• Abu Hurairah ra pernah berkata :
“ Di perintahkan kepadaku oleh kekasihku Nabi SAW untuk berpuasa 3 (tiga
) hari pada tiap-tiap bulan, mengerjakan 2 ( dua ) rakaat Shalat Sunnat
Dhuha, dan supaya saya berwitir sebelum tidur.” ( HR Bukhari dan Muslim
)
• Dari Mu’im bin Hammar, bahwasanya Nabi SAW bersabda :
“ Tuhanmu yang Maha Tinggi telah berseru : “ Hai anak Adam ! Shalatlah
empat rakaat bagi Aku dari awal siang. Maka Aku akan cukupkan engkau di
akhir siang itu”. ( HR Ahmad dan Abu Daud )
• Dari Aisyah ra, ia berkata : “ Adalah Rosulullah SAW biasa Shalat
Dhuha 4 ( empat ) rakaat dan ia menambah ( sebanyak mungkin ) menurut apa
yang dikehendaki Allah SWT.” (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah )
• Dari Ummu Hani diceritakan, sesungguhnya ia pernah datang kepada
Nabi SAW pada tahun di taklukkannya kota Mekkah. Waktu itu, Nabi SAW
berada di bagian atas kota Mekkah. Lalu Rosulullah SAW berdiri menuju ke
tempat mandinya. Fatimah lantas mendinginkannya. Kemudian ia mengambil
pakaiannya dan berselimut dengan pakaian itu. Selanjutnya, ia Shalat 8 (
delapan ) rakaat, yaitu Shalat Dhuha. ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Adapun keutamaan ( fadhilah ) Shalat Sunnat Dhuha perhatikan
Hadist-Hadist Rosulullah SAW seperti berikut :
• Nabi Muhammad SAW bersabda :

“ Pada tiap pagi dianjurkan atas diri seseorang dari kamu untuk
bersedekah. Maka tiap-tiap tasbih itu sedekah dan tiap-tiap tahmid ( puji
) itu sedekah. Pada tiap-tiap tahlil pun sedekah dan tiap-tiap menyuruh
kepada kebaikan itu juga sedekah. Begitu pula mencegah kemungkaran itu
sedekah. Namun diantara semua itu cukuplah sebagai penggantinya ialah
mengerjakan dua rakaat Dhuha. “ ( HR Muslim dan Abu Dzar )
• Dari Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa ia
pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda :
“ Dalam diri manusia itu ada 360 ( Tiga Ratus Enam Puluh ) ruas yang
setiap darinya diharuskan bersedekah. Para Sahabat bertanya : Kalau
begitu, siapa yang mampu berbuat demikian ya Rosulullah ? Rosulullah SAW
menjawab : “ Mengeluarkan dahak di Masjid lalu ditanamnya atau
menyingkirkan sesuatu gangguan dari jalan, itu juga sedekah. Tetapi kalau
engkau tidak bisa, kerjakanlah dua rakaat Dhuha. Karena itu mencukupi
dari semua itu “ ( HR Ahmad dan Abu Daud )
Saudaraku, sesama Muslim.
Begitu banyak fadhilah, keutamaan Shalat Sunnat Dhuha, seyogyanya sebagai
muslim yang baik tergerak hati kita untuk mengerjakan ( mengamalkan )
Shalat Sunnat Dhuha. Betapa tidak, kapan lagi kita akan mendapatkan
kesempatan untuk meraih, menggapai pahala untuk bekal akhirat kita ?
Hayo, saudaraku, jangan ragu dan bimbang lagi, mari dengan ikhlas kita
mengerjakan Shalat Sunnat Dhuha.

• Cara mengerjakan Shalat Dhuha.
1. Niat Shalat Dhuha :

2. Surat yang dibaca setelah Al-Fatihah :
a. Pada rakaat pertama surat Asy-Syams.
b. Pada rakaat kedua surat Adh-Dhuha.
3. Selesai shalat, membaca do’a sebagai berikut :

“ Ya Allah, ya Tuhanku, bahwa kami waktu Dhuha itu milik Engkau dan
kebajikan ( kemewahan ) itu milik Engkau, dan keindahan itu milik Engkau
dan kekuatan itu milik Engkau dan kekuasaan itu milik Engkau dan
pemeliharaan itu milik Engkau. Ya Allah, Tuhanku, jika keadaan rezekiku
di langit, maka turunkanlah dan jika adanya didalam bumi maka
keluarkanlah dan jika adanya didalam air atau dilaut maka keluarkanlah ia
dan jika ia lambat, percepatlah dan jika ia sulit, gampangkanlah dan jika
ia haram, sucikanlah dan jika jauh, dekatkanlah ia dan jika sedikit,
perbanyaklah ia padaku dan jika banyak, berkahilah ia bagiku dan
sampaikanlah dimana saja aku berada. Janganlah Engkau pindahkan aku ke
tempat itu, dan jadikanlah tanganku diatasnya, untuk menjadi pemberi dan
janganlah tanganku dijadikan dibawah untuk jadi tukang minta.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan hak ( bekal )
Dhuha Engkau, kebagusan Engkau, keindahan Engkau, kekuatan Engkau,
kekuasaan Engkau dan pemeliharaan Engkau. Tiada daya dan kekuatan,
kecuali dengan pertolongan Engkau. Berilah aku apa yang Engkau engkau
kepada hamba-hamba Engkau yang soleh. Dan sampaikanlah shalawat kepada
Nabi Muhammad SAW dan keluarganya beserta para Sahabatnya. Semoga mereka
mendapat keselamatan dan segala Puji bagi Allah, Tuhan Seru Sekalian
Alam.”
Saudaraku, kerjakanlah Shalat Sunnat Dhuha setiap pagi, paling
sedikit 2 ( dua ) rakaat atau 4 ( empat ) rakaat atau 6 ( Enam ) rakaat
dan paling banyak 8 ( delapan ) rakaat.
****
( Bahan-bahan (materi) dikutip dari Buku “FIQIH” Oleh : Drs. H. Moh
Rifai, Untuk Madrasah Aliyah. Kurikulum 1984, Edisi 1991. Penerbit
“Wicaksana “ Semarang, buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT” Oleh : Abdul Manan
bin H. Muhammad Sobari dan Buku “KUMPULAN SHALAT SUNNAT” Oleh : A.
Aminudin Pandeglang Banten )
Readmore »»

“ KEUTAMAAN SHALAT TAHAJUD ”

“ KEUTAMAAN SHALAT TAHAJUD ”
Oleh : H. Sunaryo A.Y.
Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan
shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jadi, kalau mau mengerjakan
sholat Tahajud, harus tidur dulu. Shalat malam ( Tahajud ) adalah
kebiasaan orang-orang shaleh yang hatinya selalu berdampingan dengan
Allah SWT.
Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi
engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)

Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum
turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan
shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan . Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan
serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk
Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)
Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu
malam”
( HR. Muslim )
Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk
melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu
Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun
demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 - Subuh )
Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu
adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu
Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”
Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW
sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :
“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit
sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Bersabda Rosulullah SAW :

“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya
seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada
Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap
malam.” ( HR Muslim )
Nabi SAW bersabda lagi :
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia )
ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa
yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang
meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta
ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2
( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas )
raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat
Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua )
rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :
“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya

Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.

Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama
setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan
pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron
18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh
membaca surat yang lain yang sudah dihafal.
Rasulullah SAW bersabda :
“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu

membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada

wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun

untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya

disiram air.” (HR Abu Daud)
Bersabda Nabi SAW :
“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga

keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan

(perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)
Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari

bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan

sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan

memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh

semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam

agama.
Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan

nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya

dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
(Bahan (materi) di ambil dari buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT” (Bimbingan
Readmore »»

PUASA SUNAH (ISNIN DAN KHAMIS)

Apakah dalilnya disunatkan berpuasa hari Isnin dan Khamis?

Pertama; diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. menceritakan bahawa; “Adalah Rasulullah s.a.w. amat menjaga puasa pada hari Isnin dan Khamis” (Riwayat Imam Tirmizi. Menurut beliau, hadis ini hasan soheh).

Kedua; Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda; “Dibentangkan amalan-amalan di hadapan Allah pada hari Isnin dan Khamis. Maka aku menyukai dibentang amalanku (di hadapan Allah) pada ketika aku berpuasa” (Riwayat Imam Tirmizi).

Ketiga; Abi Qatadah menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w. ditanya tentang puasa hari Isnin. Baginda menjawab; “Itulah hari aku dilahirkan dan hari aku diutuskan (menjadi Nabi) atau hari diturunkan wahyu kepadaku” (Hadis riwayat Imam Muslim).
Readmore »»

PUASA SUNAH (PUASA NABI DAUD)

Apa yang dimaksudkan dengan puasa Nabi Daud a.s.? Apa fadhilatnya?

Puasa Nabi Daud a.s. bermaksud; puasa sehari dan berbuka sehari dengan mengecualikan hari-hari yang diharamkan berpuasa iaitu dua hari raya dan hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Dzul-Hijjah). Kelebihannnya ialah sabda Nabi s.a.w.; “Sesungguhnya puasa yang paling disukai Allah ialah puasa Nabi Daud dan solat yang paling disukai Allah ialah solat Nabi Daud; beliau tidur separuh malam, bangun (mengerjakan solat) sepertiganya dan tidur semula sepernamnya. (Adapun puasa pula) beliau berpuasa sehari dan beliau berbuka (yakni tidak berpuasa) sehari” (Riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin ‘Amru r.a.). Readmore »»
 
Home | Gallery | Tutorials | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Senses ( Sis Blog ) |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.